DBS: Fundamental ekonomi RI lebih baik dibanding 2013

dbs-fundamental-ekonomi-ri-lebih-baik-dibanding-2013-1

Vaksinasi jelas menyimpan peran penting dalam jalan pemulihan ekonomi dan pemetaan investasi di masa kelak

Jakarta (ANTARA) semrawut Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao ada fundamental ekonomi Indonesia masa ini sudah lebih baik dibanding saat taper tantrum pada 2013, ketika pangkal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, terserap sebab kenaikan imbal hasil tulisan utang pemerintah Amerika Konsorsium.

“Hal ini menunjukkan bahwa meski ada kurang dampak dari aset emerging markets yang diakibatkan oleh penurunan ( taper ), (faktor) ini tidak lantas menjadi signifikan setelah adanya volatilitas, ” kata Radhika Rao dalam DBS eTalk Series, disaksikan di Jakarta, Kamis.

Taper Tantrum merupakan fenomena yang bersumber dari isyarat otoritas di Amerika Konsorsium yang akan mengurangi poin pembelian aset seperti obligasi, dan menurunkan gelontoran stimulus (quantitative easing/QE) yang semasa ini dilakukan untuk menginjeksi likuiditas di pasar keuangan.

Alhasil, rekan khawatir terhadap sinyalemen berhentinya stimulus dari Bank Sentral AS The Federal Reserve. Kekhawatiran itu membuat investor mencari langkah aman secara membalikkan modal ke perangkat keuangan di AS, serta meninggalkan gejolak di negeri2 berkembang. Gejolak di rekan keuangan karena penurunan ukuran aset itu yang mendasari munculnya istilah Taper Tantrum.

Radhika melihat pokok nilai tukar rupiah sudah lebih baik, jika bertemu gejolak karena adanya arus modal keluar, seperti wacana yang muncul dalam kaum waktu terakhir karena isyarat The Federal Reserve menanggapi laju pemulihan ekonomi GANDAR.

“Dari jurusan mata uang rupiah, pokok Indonesia lebih baik daripada tahun 2013 pada zaman Taper Tantrum atau melonjaknya yield (imbal hasil) di dalam obligasi AS, ” sirih dia dalam seminar daring yang bertajuk Factoring Vaccination Distribution Into Economic Growth and Investment Mapping.

DBS yang berkantor pusat di Singapura, menganut Bank Indonesia akan tentu menjaga stabilitas di rekan keuangan, meskipun sikap bank sentral dalam beberapa waktu terakhir mengarah ke kecendekiaan akomodatif untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Di samping itu, selain intimidasi dari taper tantrum akibat pemulihan ekonomi AS, Radhika berpandangan bahwa pulihnya ekonomi Indonesia akan sangat berpegang dari realisasi vaksinasi COVID-19. Kesehatan masyarakat harus dikedepankan agar Indonesia segera keluar dari krisis pandemi COVID-19.

“Vaksinasi terang memegang peran penting dalam upaya pemulihan ekonomi serta pemetaan investasi di periode mendatang. Keuangan publik Indonesia telah mengalami peningkatan dengan cukup signifikan selama dua dekade terakhir. Pemotongan suku bunga tidak akan berlaku, akan tetapi stabilitas pasar keuangan akan menjadi prioritas, ” ujar Radhika.

Mengucapkan juga: Peneliti: Pemulihan ekonomi tergantung kebijakan pengendalian pandemi
Baca juga: Bersambung Pasifik, Indonesia berupaya pulihkan ekonomi pascapandemi
Baca juga: Menkominfo: Teknologi digital dorong kemajuan industri wisata dan UMKM

 

Pewarta: Indra Arief Awak
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021