Mekanisasi pertanian dari “Food Estate” maka kedaulatan pangan

Mekanisasi pertanian dari "Food Estate" maka kedaulatan pangan

untuk mendukung terwujudnya swasembada sekaligus kedaulatan pangan, berbagai pelatihan buat mendorong petani semakin modern tetap dilakukan

Jakarta (ANTARA) – Mekanisasi pertanian pernah mengantarkan Nusantara sebagai negeri yang berdaulat penuh atas pangan. Namun, seiring berjalannya waktu mekanisasi pertanian di Desa Air berjalan lambat sementara teknologi seakan berlari sekencang angin.

Maka pertanian di Indonesia walaupun telah sebagian di antaranya diperkuat dengan mekanika bukan semata tangan para petani, banyak terjebak dalam stigma tradisional.

Padahal, ledakan penduduk yang semakin tinggi semakin berbahaya jika tak diiringi upaya menjadikan kebutuhan pangan di dalam negeri lebih berdaulat.

Di sisi lain pengelolaan pangan yang baik akan menjadi pokok bagi setiap bangsa menghadapi ancaman krisis pangan, termasuk akibat pandemi COVID-19 sebagaimana prediksi FAO (2020) dan World Food Programme (2020).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam banyak kesempatan tetap mengingatkan prediksi FAO yang memperkirakan dampak pandemi virus corona mampu menyebabkan krisis pangan dunia. Sebab itu, peringatan tersebut perlu direspon untuk memastikan ketersediaan pangan.

Indonesia, setidaknya telah menyiapkan diri dengan pembangunan lumbung bertabur atau “food estate” di dua tempat sebagai upaya mendorong terwujudnya kedaulatan pangan.

Pemimpin Joko Widodo mengapresiasi penggunaan drone untuk pemupukan di lokasi “food estate” sebagai bentuk penerapan mekanisasi pertanian di lahan seluas ribuan hektare.

Upaya buat mendorong terwujudnya lumbung pangan dengan lebih efisien diantaranya dengan menerapkan mekanisasi pertanian sebagai pendukung.
 


Presiden Joko Widodo (kiri berdiri) meninjau lokasi pengembangan food estate atau lumbung pangan baru dalam Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Daerah Kalimantan Tengah pada Kamis, (8/10/2020) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan tubuh. Lumbung pangan baru di Kabupaten Pulang Pisau, pada tahun 2020 ini, ditargetkan agar dapat dikembangkan seluas 10. 000 hektare tanah. Pada saat peninjauan, Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Habib Ismail Bin Yahya. ANTARA/HO-BPMI Setpres/Kris/pri/am.

Penggunaan drone

Presiden Joko Widodo mengapresiasi penerapan mekanisasi pertanian pada kedudukan yang digunakan sebagai lumbung pangan.

“Seperti yang kita lihat di sini tadi misalnya untuk pemupukan kita pakai drone, membajak sawah kita memakai traktor apung, ” kata Presiden Joko Widodo saat kunjungan kerja meninjau “Food Estate” Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, belum lama itu.

Ia bahkan mengapresiasi selain drone yakni traktor apung sebuah traktor khusus yang bisa digunakan untuk membajak lahan 2 hektare dalam sehari.

Presiden menanyakan langsung kepada operator traktor yang sehari-hari menggunakan metode mekanika pertanian itu.

“Ini traktor khusus dan dipakai, saya tanya tadi ‘1 hari bisa berapa hektare? ‘ operator traktor bilang 2 hektare, tersebut adalah sebuah kecepatan karena yang akan kita kerjakan adalah suatu hamparan yang sangat luas jadi dibutuhkan mekanisasi alat-alat modern (penuh) kecepatan sehingga kecepatan itu banget ada, ” katanya.

Tercatat pada 2020, di Kabupaten Pulang Pisau, “food estate” yang dikembangkan seluas 10. 000 hektare.

Sementara di Kabupaten Kapuas akan digarap seluas 20. 000 hektare sehingga total tanah untuk “food estate” di Kalteng pada tahun ini mencapai 30. 000 hektare.

Dalam sisi lain teknologi budidaya di dalam bentuk tumpang sari pun diterapkan dengan mengkombinasikan padi dan jeruk, dilengkapi dengan bawang merah serta kelapa,

Petani modern

Sementara itu, untuk mendukung terwujudnya mandiri sekaligus kedaulatan pangan, berbagai pelatihan untuk mendorong petani semakin baru terus dilakukan.

Lupa satunya di Purworejo, Jawa Sedang, sebagai salah satu lumbung pertanian di Indonesia digelar Pelatihan Training of Farmers (ToF) di BPP Kecamatan Gebang, Purworejo, yang mengajarkan petani untuk menerapkan teknologi perendaman AWD.

Teknologi ini merupakan bagian dari pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) proyek SIMURP yang terus dilakukan Badan Penyuluhan dan Perluasan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, ToF bertujuan meningkatkan kapasitas petani, kelompok tani dan P3A sebagai penerima khasiat Proyek SIMURP.

Diharapkan kegiatan ToF CSA SIMURP  itu memberikan banyak manfaat bagi petani dan penyuluh.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi, mengharapkan pelatihan ToF memberikan manfaat kepada petani khususnya dalam meningkatkan pengetahuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, caranya dengan cerdas memanfaatkan iklim.

Misalnya bagaimana pertanian hanya memerlukan air sedikit tetapi produktivitasnya tetap tinggi serta memanfaatkan juru bicara mesin pertanian modern secara ideal.

Materi yang disampaikan diantaranya Pengolahan Tanah, Pemanfaatan KATAM, Teknologi Jajar Legowo, Pemanfaatan Racun hama Nabati, Pemupukan Organik, Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK).

Salah satu materi yang penting diajarkan pada para petani adalah bagaimana cara menggunakan air seefisien kira-kira. Tapi, tidak menurunkan produksi. Sebab, padi bukan tanaman air tapi merupakan tanaman butuh air.

Sehingga, padi tidak perlu digenangi terus menerus. Tetapi, menetapkan diatur kapan tanaman tersebut perlu diairi dan kapan tidak menetapkan diairi. Sehingga, dapat menghemat minuman yang semakin langka di dapatkan di muka bumi ini.

Kelangkaan air tersebut selain karena disebabkan oleh perubahan iklim namun juga disebabkan ulah pribadi yang boros dalam pengunaan air. Petani pun kerap kali menyalurkan sawah mereka dengan cara menggenangi lahan secara terus menerus.

Oleh karena itu, buat meminimalisir terjadinya kelangkaan air para-para petani dibekali ilmu bagaimana mampu berhemat air dalam berusahatani dalam sawah yaitu dengan menggunakan teknologi pengairan AWD hasil temuan para-para ahli dan peneliti yang bertujuan untuk menghemat air dalam tali air.

AWD (Alternate Wetting and Drying) adalah teknologi hemat air yang dapat diterapkan petani untuk mengurangi penggunaan air tali air di lahan sawah.

Teknologi ini merupakan salah kepala teknologi untuk menghemat penggunaan cairan tanpa mengurangi produktivitas tanaman. AWD sangat cocok untuk diterapkan dalam tanaman padi.

Khasiat dari AWD selain untuk menghemat kebutuhan air sawah juga mampu digunakan untuk membantu mengurangi kemajuan gulma, mengurangi serangan organisme bisul tanaman seperti wereng dan keong sawah, serta menciptakan lingkungan dengan kaya oksigen yang baik buat pertumbuhan perakaran.

“Teknologi ini mampu menghemat penggunaan tirta irigasi sebesar 17-20 persen. Selain itu, teknologi ini juga sanggup meningkatkan produksi hingga 1 ton/ha dibandingkan dengan pengairan terus-menerus, ” katanya.

Banyak hal terkait mekanisasi pertanian menjadi itikad untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang bertambah modern dan maju dalam cara mencapai kedaulatan pangan.
 

Oleh Hanni Sofia
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020