Sri Mulyani sebut pandemi pukul pabrik migas

Sri Mulyani sebut pandemi pukul pabrik migas

Sektor migas pada Indonesia memerlukan perhatian besar

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan  pandemi COVID-19 telah memukul industri pertambangan termasuk minyak dan gas dunia (migas).

“Sektor pertambangan tercatat migas, terpukul sangat parah sebab pandemi COVID-19 ini. Permintaan meluncur sangat signifikan secara global. Soal harga minyak, kami juga melihat volatilitas yang dramatis selama pandemi COVID-19, ” katanya dalam lapik 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG 2020) secara virtual di Jakarta, Rabu.

Oleh sebab itu, Sri Mulyani mengatakan zona migas di Indonesia memerlukan perhatian besar.

Baca juga: Luhut yakinkan investor migas ekonomi Indonesia tumbuh nyata 2021

Ia mengakui saat menjabat jadi Menteri Keuangan pada 10-15 tarikh lalu, pembahasan penurunan produksi migas pun sudah terjadi.

“Ada beberapa hal yang benar-benar perlu kami tangani agar bisa meningkatkan tingkat produksi atau lifting, baik di bidang minyak maupun gas. Pertama, tentunya harus tersedia kebijakan yang tepat terkait dengan jalan apa kita akan mendorong eksplorasi sebab mengandalkan produksi yang ada, segenap telah menurun karena usia alaminya, ” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan untuk produksi dengan sudah ada, pemerintah benar-benar kudu memastikan akan ada efisiensi, memikirkan perubahan yang tidak tetap sebab harga minyak dan gas.

Di saat yang serupa, ia juga mendorong SKK Migas serta industri untuk terus melangsungkan eksplorasi.

“Memang tak mudah, apalagi dengan proyeksi nilai minyak yang juga belum sembuh dengan cepat. Tapi eksplorasi tersebut bisa dilakukan dengan teknologi mengikuti dukungan pemerintah, ”  imbuhnya.

Dari sisi fiskal, negeri juga memberikan dukungan untuk bisa terus menggali sekaligus meningkatkan lifting dan produksi migas di Nusantara.

Dukungan tersebut kurun lain dengan disahkannya UU Membikin Kerja, serta menggunakan semua perkakas agar dapat mendukung setiap industri secara signifikan.

Istimewa untuk sektor migas, Kementerian ESDM telah meluncurkan dua opsi untuk kontraktor migas untuk menggunakan rencana biaya operasi yang dikembalikan ( cost recovery ) atau bagi hasil kotor ( gross split ).

“Ini adalah opsi yang bisa diberikan dan nantinya akan tergantung dari industri itu sendiri untuk memilih mana dengan lebih cocok untuk Anda, ” katanya.

Selain itu, pemerintah juga menggunakan perangkat fiskal agar dapat mendukung seluruh siklus bisnis industri migas, mulai daripada eksplorasi hingga produksi.

Insentif yang diberikan dari sisi  fiskal yaitu termasuk pengurangan pajak penghasilan yang akan diturunkan dari 25 persen menjadi 22 persen atau 20 persen dalam perut tahun ke depan.

Pemerintah juga memberikan dukungan penghentian bea masuk bandara dan bermacam-macam fasilitas lainnya di kawasan ekonomi khusus.

Selain cara tersebut, ada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 140 Tahun 2020 yang fokus pada beberapa pengaturan pati mengenai penggunaan barang milik negara.

Pertama, kami sudah menyelaraskan kewenangan dan tanggung berat serta pembagian kembali ( re-sharing ) antara Departemen Keuangan dan Kementerian ESDM  beserta instansi pelaksana dalam pengelolaan desa migas milik pemerintah.

Pemerintah juga melakukan penyederhanaan birokrasi untuk mendukung optimalisasi hulu migas dengan memberikan peran yang lebih besar kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kepada lembaga pelaksana.

“Ini seluruh adalah upaya yang terus awak upayakan agar kami dapat mengumumkan kebijakan yang tepat untuk memajukan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan bertambah banyak minyak dan gas, ” katanya.

Sri Mulyani  juga mengatakan industri migas dasar tidak hanya menghadapi ketidakpastian berbentuk resesi global maupun politik, namun juga persaingan dengan sumber gaya terbarukan lainnya. Ia pun menodong industri migas untuk bisa tepat.

“Indonesia masih langsung mengalami penurunan produksi minyak serta gas, sementara di saat dengan sama, permintaan dan kebutuhan energi akan terus meningkat. Permintaan mau meningkat ketika ekonomi Indonesia lahir lebih tinggi. Kami bertujuan untuk mencapai ekonomi negara berpenghasilan mulia. Artinya, kebutuhan energi akan langsung meningkat.
Dan, itulah mengapa memiliki produksi minyak dan gas serta sumber energi lainnya menjelma sangat penting untuk mendukung Nusantara dalam mencapai tujuan negara berpenghasilan tinggi, ” ujarnya.

Baca juga: Gajah ESDM: Ketidakpastian industri migas harus dikurangi
Baca juga: Menteri ESDM: peluang industri migas masih prospektif

Pewarta: Ade Irma Junida
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020